Surga Wisata Budaya & Nature di Sumba: Menelusuri Kampung Adat Ratenggaro, Air Terjun Tanggedu, dan Weekuri Lagoon

 

thegenesispublishing.com – Merencana kan perjalanan ke Sumba biasa nya mentok di satu pertanyaan ketiga tempat ikonik ini ternyata tidak berada di sisi pulau yang sama.

Ratenggaro dan Weekuri ada di Sumba Barat Daya, sedang kan Air Terjun Tanggedu berada di Sumba Timur.

Dua Sisi Pulau, Dua Karakter

Telkomsel dalam artikelnya (Februari 2026) membagi Sumba menjadi dua rute. Sumba Timur dengan pintu masuk Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu menonjolkan savana, perbukitan, dan air terjun. Sumba Barat dan Barat Daya dengan pintu masuk Bandara Tambolaka lebih kuat di budaya, pantai karang, laguna, dan kampung adat.

Destinasi Wilayah Daya tarik utama Pintu masuk terdekat
Kampung Adat Ratenggaro Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya Rumah menara, kubur batu, muara dan pantai Tambolaka
Weekuri Lagoon Kodi Utara, Sumba Barat Daya Laguna air asin berwarna biru Tambolaka
Air Terjun Tanggedu Kanatang, Sumba Timur Air terjun di antara tebing, trekking Waingapu

Karena letaknya berjauhan, banyak perjalanan memisahkan keduanya. Panduan backpacker Hipwee (2018, harganya sudah lama) menyebut transfer dari Tambolaka ke Waingapu dengan mobil travel memakan waktu hingga sekitar tengah hari bila tidak berhenti, sedangkan angkutan umum biasa bisa menghabiskan hampir seharian. Rutenya bisa dibalik tergantung tiket pesawat dan jadwal.

Kampung Adat Ratenggaro

Ratenggaro berada di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, di dekat muara sungai dan pantai berpasir putih. Good News From Indonesia (Januari 2025) menyebut jaraknya sekitar 56 km dari Tambolaka, dengan waktu tempuh sekitar 1 sampai 1,5 jam di jalan beraspal.

Arti nama dan latar sejarahnya

Nama Ratenggaro, menurut beberapa sumber, berasal dari kata rate (kuburan) dan garo (suku Garo), mengacu pada cerita perang antarsuku yang menewaskan orang Garo. Koran Jakarta (Februari 2026) menuliskannya sebagai dugaan, dan versi ceritanya memang bergantung pada tuturan setempat.

Rumah menara

Ciri yang paling mudah dikenali adalah rumah panggung beratap menara tinggi dari alang-alang. Koran Jakarta menyebut tinggi atapnya lebih dari 15 meter dan bangunan dirakit tanpa paku, memakai pasak kayu dan tali rotan. Strukturnya dibagi tiga: kolong untuk ternak, ruang hunian di tengah, dan menara untuk benda pusaka serta roh leluhur. Sumber lain menulis tingginya bisa sampai sekitar 30 meter. Angka itu bervariasi antar sumber, jadi lebih aman menyebutnya “belasan hingga puluhan meter”.

Dalam kepercayaan Marapu, leluhur dianggap bersemayam di langit, sehingga makin tinggi atap makin dekat dengan leluhur dan makin tinggi pula status sosial pemiliknya.

Kubur batu

Di sekitar kampung terdapat kubur batu bergaya megalitik. Good News From Indonesia (2025) menulis sekitar 304 kubur batu dan usianya lebih dari 4.500 tahun. Angka itu berasal dari satu artikel populer dan tidak saya cek ke publikasi arkeologi, jadi anggap sebagai klaim. Koran Jakarta menambahkan bahwa semakin besar dan berukir sebuah kubur, semakin tinggi status almarhum, dan tradisi ini masih berjalan.

Yang bisa dilakukan

  • Melihat rumah adat dan kubur batu dari jalur yang diizinkan warga.
  • Melihat perempuan setempat menenun kain Sumba bermotif Kodi di teras rumah, yang menjadi sumber ekonomi warga (Koran Jakarta).
  • Menikmati muara dan pantai di sekitar kampung. Artikel 2020 menyebut penyewaan kuda dan pakaian adat, tetapi harganya tidak saya jadikan acuan.

Soal tiket dan donasi

Popbela (April 2026) mencatat donasi sekitar Rp20.000 dan buka 24 jam. Artikel Good News From Indonesia dan Koran Jakarta tidak menyebut tarif. Karena sifatnya sering berupa donasi, siapkan uang tunai pecahan kecil dan tanyakan langsung ke warga atau pemandu.

Weekuri Lagoon

Weekuri berada di Kodi Utara, Sumba Barat Daya. Airnya masuk dari laut melalui celah karang, sehingga laguna ini asin dan tenang. Antara News dan Good News From Indonesia (keduanya 2018) menyebut bentuknya oval sekitar 150 m × 50 m. Kedalamannya sekitar 30 cm hingga 2,5 m, dan bisa lebih dalam saat pasang. Nama Weekuri disebut berasal dari bahasa Sumba yang berarti air percikan.

Fasilitas dan kondisi

Dari sumber 2018, laguna ini punya jembatan kayu, area melompat, tangga besi, toilet, dan warung yang dikelola warga. Artikel itu juga mencatat belum ada papan petunjuk, sebagian jalan belum beraspal, dan sinyal seluler lemah. Kondisi sekarang kemungkinan sudah berubah, tetapi bekal tunai dan peta offline tetap bijak, seperti disarankan Telkomsel.

Popbela (2026) menulis jam buka 08.00–17.00 WITA dengan tiket sekitar Rp15.000. Sebaliknya, laporan 2018 menyebut tidak ada tarif tetap, hanya sumbangan sukarela. Perbedaan ini menandakan pengelolaan berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Kapan datang

Laporan 2018 menyarankan tiba sekitar sore karena air bisa lebih tinggi dan cahaya menjelang senja bagus untuk foto di jembatan. Ingat juga tidak ada penerangan jalan saat pulang, jadi atur waktu agar tidak kemalaman di jalan.

Berenang dengan aman

Permukaan tenang bukan jaminan aman. Kedalaman berubah mengikuti pasang surut, dan area lompat membutuhkan kehati-hatian. Pastikan kemampuan berenangmu dan jangan melompat tanpa memeriksa kedalaman. Tidak ada sumber yang saya baca membahas tim penyelamat di lokasi, jadi jangan berasumsi ada.

Air Terjun Tanggedu

Tanggedu berada di Desa Tanggedu, Kecamatan Kanatang, Sumba Timur. Metro TV (Desember 2025) menjulukinya “Grand Canyon-nya Sumba Timur” karena letaknya di antara tebing.

Menuju lokasi

Dari Waingapu, jaraknya sekitar 46 km (Good News From Indonesia, 2024) atau 50 km (Metro TV, 2025), dengan waktu tempuh hingga sekitar dua jam. Jalan utama beraspal, tetapi mendekati lokasi berupa tanah dan bebatuan. Dari area parkir terakhir kamu berjalan sekitar 3 km. Artikel 2024 menyebut rutenya melewati jembatan, savana hijau, lalu tangga turun, dan bisa dilalui dengan jalan kaki atau ojek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *